Jumat, 02 Maret 2012

TUGAS 3


FINI ERNA DEWI

12110786
2KA26
MATA KULIAH : TEORI ORGANISASI UMUM 2



A. Pengertian pendapatan
Jika kita bicara tentang ekonomi, pasti ada yang namanya pendapatan ataupun pengeluaran,,, nah kita harus tahu apa itu pendapatan secara harfiahnya,, setelah saya cari tahu di internet,, ternyata pengertian pendapatan itu bntanyak banget yang mengungkapkan apaitu pendapatan,,,
pengertian pendapatan diantanya sebagai berikut:
1. Dalam literatur akuntansi terdapat beberapa pengertian atau definisipendapatan, antara lain adalah:
a. Menurut Niswonger (1992:22) Pendapatan adalah jumlah yang ditagih kepada pelanggan atas barangataupun jasa yang diberikan kepada mereka. Pada buku yang sama, Niswonger (1992:56) juga menjelaskan pendapatansebagai berikut:
Pendapatan atau revenue merupakan kenaikan kotor atau gross dalammodal pemilik yang dihasilkan dari penjualan barang dagangan,pelaksanaan jasa kepada pelanggan atau klien, penyewa harta,peminjam uang, dan semua kegiatan usaha serta profesi yangbertujuan untuk memperoleh penghasilan.
b. Menurut PSAK nomor 23 paragraf 6 adalah sebagai berikut:
pengertian Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yangtimbul dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arusmasuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal darikontribusi penanaman modal.8
c. Menurut Accounting Terminology Bulletin No. 2 yang dikutip dalam bukuHarahap (1999:39):
Pendapatan berasal dari penjualan barang dan pemberian jasa dandiukur dengan jumlah yang dibebankan kepada langganan, klaim atasbarang dan jasa yang disiapkan untuk mereka. Juga termasuk laba daripenjualan atau pertukaran asset (kecuali dari surat berharga), hakdividen dari investasi dan kenaikan lainnya pada equity pemilik kecualiyang berasal dari modal donasi dan penyesuaian modal. Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa secara luas pendapatandianggap termasuk seluruh hasil dari perusahaan dan kegiatan investasi.Dalam hal ini termasuk juga perubahan net asset yang timbul dari kegiatanproduksi dan dari laba rugi yang berasal dari penjualan aktiva dan investasi,kecuali kontribusi modal dan penyesuaian modal.
d. Menurut
Financial Accounting Standard Board yang dikutip oleh Harahap(1999:58) Definisi pendapatan adalah arus masuk atau peningkatan nilai aset darisuatu entity atau penyelesaian kewajiban dari entity atau gabungandari keduanya selama periode tertentu yang berasal dari penyerahan/produksi barang, pemberian jasa atas pelaksana kegiatan lainnya yangmerupakan kegiatan utama perusahaan yang sedang berjalan. Dari beberapa definisi yang terdapat diatas, dapat disimpulkan bahwapendapatan adalah kenaikan gross /kotor dari keuntungan ekonomi selamasuatu periode dari aktivitas utama perusahaan yang menyebabkan kenaikanekuitas tetapi bukan disebabkan dari kontribusi penanaman modal.
2. Pengakuan Pendapatan Secara Umum
Pendapatan merupakan salah satu komponen penting laporan keuangan.Namun permasalahan utama dalam akuntansi untuk pendapatan adalahmenentukan saat pengakuan pendapatan. Dalam Statement of Financial

Pengakuan Pendapatan Secara Umum

Pendapatan merupakan salah satu komponen penting laporan keuangan. Namun permasalahan  utama dalam akuntansi untuk pendapatan adalah menentukan saat pengakuan pendapatan. Dalam Statement of Financial  Accounting Concept  No. 5 disebutkan bahwa pengakuan pendapatan umumnya terjadi ketika :
1.     Pendapatan Telah Direalisasikan, Pendapatan dapat direalisasikan bila aktiva yang didapat atau diterima dari suatu pertukaran dapat dipertukarkan secara cepat dengan sejumlah uangkas atau klaim terhadap kas.
2.     Pendapatan Telah Dihasilkan,Pendapatan telah dihasilkan karena sebagian besar proses untuk menghasilkan laba telah diselesaikan.
General Accepted Accounting Principles (GAAP) menyimpulkan bahwapendapatan baru dapat diakui dalam laporan keuangan bila memenuhi kriteria sebagai berikut:
1.     Nilai ekonomis harus sudah ditambahkan kepada produknya.
2.     Jumlah/nilai pendapatan harus dapat diakui.
3.     Pengukuran harus dapat diuji dan relatif bebas dari bias.
4.     Expense/ beban yang terkait harus dapat ditaksir dengan cukup akurat.

Pengukuran Pendapatan

Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima.  Jumlah pendapatan yang timbul dari suatu transaksi biasanya ditentukan  oleh persetujuan  antara perusahaan dan pembeli atau pemakai aktiva tersebut. Jumlah tersebut diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima perusahaan dikurangi jumlah diskon barang yang diperbolehkan oleh perusahaan.
Pada umumnya, imbalan tersebut berbentuk kas atau setara kas yang diterima atau dapat diterima. Namun, bila arus masuk dari kas atau setara kas ditangguhkan, nilai wajar dari imbalan tersebut mungkin kurang dari jumlah nominal dari kas yang dapat diterima(Pernyataan Standar Akuntansi No. 23, 1999: paragraf 8-10).
Ada dua interpretasi utama yang muncul dari konsep pendapatan inimenurut Belkaoui, (1997:199), yaitu:
1.     Potongan tunai (cash discounts) dari setiap pengurangan dalam harga yang tetap, seperti kerugian piutang yang tidak tertagih, merupakan penyesuaian yang diperlukan untuk menghitung ekuivalen  kas netto yang sebenarnyaatau nilai diskont tunai dari klaim uang, sehingga harus dikurangkan ketika menghitung pendapatan.
2.     Untuk transaksi bukan kas, nilai pertukaran (exchange value) ditetapkansama dengan nilai pasar yang wajar dari penggantian yang diberikan atau diterima, mana yang lebih mudah dan lebih jelas untuk dihitung.

Metode Pengakuan Pendapatan

Menurut Skousen (1995: bab 18), ada beberapa variasi metode pengakuanpendapatan berdasarkan saat terjadi transaksi penjualan, yaitu:
Sebelum Penyerahan Barang dan Jasa
Dalam peristiwa ini, biasanya terjadi apabila periode konstruksi atau pembuatan barang yang akan dijual atau periode pelaksanaan jasa relatif lama yaitu lebih dari satu tahun.
Metode pengakuan pendapatan yang dapat dipergunakan, antara lain :
1.     Metode kontrak selesai (completed-contract ).Metode ini hanya akan digunakan  apabila suatu  perusahaan mempunyai kontrak  jangka pendek, apabila kondisi-kondisi untuk menggunakan akuntansi persentase penyelesaian tidak dipenuhi, atau apabila ada ketidakpastian yang melekat dalam kontrak di luar resiko bisnis yang normal.
2.     Metode persentase penyelesaian (percentage-of-completion) Menurut metode ini, perusahaan akan mengakui pendapatan dan biaya sesuai dengan kemajuan perusahaan  dalam  menyelesaikan kontrak dan tidak menangguhkan pengakuan unsur-unsur ini sampai kontrak diselesaikan.
Sesudah Penyerahan Barang atau Pelaksanaan Jasa
Dalam peristiwa ini, pendapatan dapat diakui dengan beberapa metode,yaitu:
1.     Metode Full Accrual, Berdasarkan metode ini, pendapatan dari penjualan diakui penuh tanpa memperhatikan apakah pembayaran sudah diakui seluruhnya atau masih sebagian, asalkan sudah memberi uang muka.
2.     Metode Penjualan Cicilan, Menurut metode ini, pendapatan lebih baik diakui ketika kas diterima daripada saat penjualan.
3.     Metode Perolehan Kembali Harga Pokok (Cost Recovery Method ). Menurut metode ini, tidak ada laba yang diakui untuk suatu penjualan sampai harga pokok barang  yang dijual  diperoleh kembali  melalui penerimaan kas. Setelah itu, semua penerimaan berikutnya dilaporkan sebagai pendapatan.  Metode ini hanya digunakan apabila keadaan-keadaan yang melingkupi suatu penjualan sangat tidak pasti sehingga pengakuan yang lebih awal tidak mungkin dilakukan.
4.     Metode Kas, Menurut metode ini, semua biaya dibebankan sebagai beban (expense ) ketika  dikeluarkan dan pendapatan diakui ketika penerimaan kas dilakukan. Metode pengakuan pendapatan dan biaya yang ekstrim ini hanya akan tepat bila tingkat kepastian dari kerugian  potensial atas suatu kontrak tidak dapat ditaksir. Metode ini, jarang digunakan dalam penjualan barang dagangan dan real estate karena hak untuk mengambil kembali akan memberikan nilai yang sangat besar bagi penjual.

 

Konsep pendapatan ekonomi

Disisi lain, para ekonom menyadari income sebagai rangkaian pengalaman jiwa seseorang i.e, keceriaan atau peristiwa tertentu dari berbagai orang lebih dari sekedar sebuah entitas(Fisher1930).Faktanya menurut dia,sebuah entitas artifisial seperti bisnis tidak bisa mendapatkanincome karena bisnis tidak memiliki kesadaran. Konsumsi sebagai kebutuhan absolute menurut konsepFisher menjadi sangat penting sampai-sampai ia tidak mengakui tabungan sebagai income karena ia menganggap tabungan hanya sebagai konsumsi potensial, dimana tidak ada kegembiraan yang dirasakan mengenai itu. Meskipun begitu ekonom selanjutnya mengadopsi konsep income personalnya pada entitas bisnis dengan memasukkan tabungan dalam konsumsi sebagai bagian income.

Semenjak kegembiraan seseorang adalah subjektif dan tidak dapat diukur secara langsung, Fisher memperkirakannya dengan mundur dua langkah dibelakang income kegembiraan pada biaya hidup atau ukuran riil pendapatan i.e nilai moneter akhir konsumsi barang fisik dan jasa di dunia luar.
Hicks (1946) memperluas konsep income ekonomi dengan apa yang kita sekarang kenal sebagai maintenance of capital intact, sebelum income lainnya dimasukkan. Mengikuti ide bahwa “ kalkulasi income dalam praketek adalah untuk memberi seseorang indikasi berapa jumlah yang bisa ia konsumsi tanpa menjadikan ia miskin”, ia mengenalkan konsep well-offmess sebagai dasar perkiraan income seseorangnya Fisher. Menurut dia, income adalah: “the maximum value which ..(a person) can consume during a week and still expect to be as well off at the end of the week as he was in the beginning”
Definisi yang baik ini memaksa agar modal harus di kembalikan sebelum income dapat dikalkulasi, namun bagaimanakah well-offness ini didefinisikan, dijawab oleh Hicks sendiri, ia lebih jauh mengelaborasi dan mengoprasionalkan well-offness-(kondisi terbaik) nya dalam bebarapa perkiraan i.e.
1) Di bawah kondisi bunga tidak berubah dan ketiadaan inflasi
2) Dibawah bunga yang berubah tapi tidak ada inflasi.
3) Dibawah tingkat suku bunga tetap (fixed rate) dengan inflasi
Dengan mendefinisikan income kedalam beberapa keadaan ini.
Pada kondisi pertama, income didefinisikan menjadi jumlah maksimun yang bisa dibelanjakan selama beberapa periode tertentu, jika terdapat ekspektasi untuk mempertahankan nilai modal tetap masuk (dalam bentuk uang) secara utuh.
Kondisi kedua income didefinisikan sebagai jumlah maksimum seseorang yang dapat dibelanjakan selama periode tertentu dan tetap dapat memblanjakannya dengan jumlah yang sama pada tiap periode berebada. Definisi ini mengurangi kondisi pertama 1) ketika suku bunga tetap.
Dalam kondisi ketiga income didefinisikan jumlah yang bisa dibelanjakan seseorang dalam periode tertentu dan tetap dapat membelanjakannya dalam jumlah sama pada minggu berikut.
Income economi kemudian dapat ditulis dengan persamaan berikut:
Ye= C+Kt-Kt-1 dimana
Ye = economic income
C = Consumtion
Kt dan Kt-1 adalah modal di akhir dan diawal periode secara berturut-turut yang diukur dengan present value cash flow masa depan pada saat t dan t-1.
Hal ini dapat diperbandingkan dengan income akuntansi Ya = Rt-Rt-1 +D dimana Rt dan Rt-1 adalah modal residual di awal dan diakhir periode dan D adalah deviden yang didistribusikan kepada pemilik. Meskipun persamaan tersebut sama, income ekonomi adalah hasil evaluasi modal di awal periode sebagai kapitalisasi nilai yang akan diterima dimasa mendatang, sebaliknya income akuntansi yang dihasilkan dari proses memperbandingkan menghasilkan dalam bentuk modal residual. Oleh karena itu dalam ekonomi, income adalah residu i.e para ekonom memasukkan modal untuk mengukur income dimana dalam akuntansi tradisional, capital adalah residual setelah income dihitung.
Ekonomi pada keadaan ketidakpastian di istilahkan dengan ideal income (Lee, 1985). Dalam “dynamic economy” meminjam istilah Alexander (1977), dimana nilai mengalami perubahan karena perubahan harga dan ekspektasi masadapan, income tidak dapat di hitung secara objektif oleh karena itu hal ini tidak dapat dipraketekkan dalam dunia bisnis. Memprediksikan jumlah dan waktu cash flow serta pilihan kesesuaian tingkat diskon (yang bergantung pada preferensi individu dan ketersediaan alternative investasi) memperkirakan opportunity cost sebuah entitas dapat menghadirkan masalah. Lebih jauh dalam income ekonomi, diasumsikan bahwa tingkat pengembalian modal termasuk cash flow realisasi diinevestasikan kembali pada tingkat diskon (discount rate). Hal ini menjadikan reinvestment dapat dilakukan dan tingkat suku bunga dalam keadaan konstan. Walaupun begitu hal ini tidak terjadi dalam dunia nyata yang mengandung ketidakpastian dan akan menuju pada unexpected gains (merujuk pada lee 1985). Pengulangan kembali reinvestasi pada periode berikutnya menambah permasalahan ini. Akhirnya terdapat masalah dengan asumsi constant well-offness yang tidak realistis, karena dalam kenyataan seseorang atau bisnis akan memiliki satu dari tujuannya adalah pertumbuhan modal. Disamping fakta bahwa pertumbuhan dapat di masukan kedalam model ekonomi (e.g model pertumbuhan deviden Gordon). Prediksi tingkat pertumbuhan dapat membuyarkan masalah.
Namun, income ekonomi secara teoritis dapat dianggap sebagai model income paling sempurna, karena nilai modal tidak terbantahkan berhubungan dengan arus kas. Nila modal juga memasukkan sumber daya manusia dan fisik dari sebuah entitas yang mendasari modal. Hal tersebut (ex ante income ekonomi) juga merefleksikan ‘guidance to prudent conduct’ i.e jumlah maksimum pemilik modal yang dapat dikonsumsi (atau dividen perusahaan yang didistribusikan) tanpa menggangu modal dan konsumsi masa depannya. Penilaian ini didasarkan pada prediksi arus kas masa depan sesuai untuk pengambilan keputusan (ini adalah dasar teknik penilaian discounted cash flow investasi dalam manajemen akuntansi). Income ekonomi juga memperhitungkan factor waktu (keuntungan ekonomi potensial menjadi lebih berharga sebagai realisasi relevant terdekat). Akhirnya tingkat pengembalian modal dispesifikasi sebagai panduan penginvestasioan kembali dan capital maintenance (Lee 1985).

Terkait tentang Konsep pendapatan ekonomi :

§  Konsep akuntansi pendapatan

Definisi tradisional income atau profit oleh akuntan adalah surplus yang dihasilkan dari akitifitas bisnis, hasil dari siklus cash-to cash operasi ...

§  Pentingnya Pengukuran Pendapatan

Dalam akuntansi konvensional, penentuan income atau ‘keuntungan’ adalah salah satu fungsi utama akuntansi sebagai penentu perpindahan kekayaan antar seseorang. Contohnya, ...

§  Income variable

Perubahan ekspektasi pada kondisi ketidak pastian akan menyebabkan keuntungan dan kerugian yang tak terduga terkait dengan perubahan harapan. Hal ini ...

§  Capital dan Capital maintenance

Dalam akuntansi, capital (modal) dapat dikatakan sebagai kumpulan asset tangible (berwujud) dan intangible (tidak berwujud), keduanya dapat berbentuk moneter dan ...

§  Business income

Business income berusaha untuk mengoreksi kekurangan dari akuntansi tradisonal income yang muncul terkait dengan prinsip realisasi dan konsep konservatifnya serta ...
Sumber :

B. Metode Perhitungan Pendapatan Nasional

a. Metode Output (Output Approach) atau Metode Prduksi
Menurut metode ini PDB adalah total output (produksi) yang dihasilkan oleh suatu perekonomian. Cara perhitungan dalam praktik adalah dengan membagi-bagi perekonomian menjadi beberapa sektor produksi (industrial origin).

NT = NO-NI
dimana :
NT = nilai tambah
NO = nilai output
NI = nilai input antara

Dari persamaan diatas sebenarnya dapat dikatakan bahwa proses produksi merupakan proses menciptakan atau meningkatkan nilai tambah.Aktivitas produksi yang baik adalah aktivitas yang menghasilkan NT>0. dengan demikian besarnya PDB adalah :

PDB = n jumlah i=1 NT
dimana :
i = sektor produksi ke 1,2,3....,n

b. Merode Pendapatan (Income Approach)
Metode pendapatan memandang nilai output perekonomian sebagai nilai total balas jasa atas faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi. Hubungan antara tingkat output dengan faktor-faktor produksi yang digunakan digambarkan dalam fungsi produksi sederhana dibawah ini.

Q = f(L,K,U,E)
dimana :
Q = output
L = tenaga kerja
K = barang modal
U = uang/finansial
E = kemampuan enterpreneur atau kewirausahaan

Balas jasa untuk tenaga kerja adalah upah atau gaji. Untuk barang modal adalah pendapatan sewa. Untuk pemilik uang/aset finansial adalah pendapatan bunga.Sedangkan untuk pengusaha adalah keuntungan. Total balas jasa atas seluruh faktor produksi disebut Pendapatan Nasional (PN).

PN = w + i + r + ......
dimana :
w = upah/gaji (wages/salary)
i = pendapatan bunga (interest)
r = pendapatan sewa (rent)
Menurut pendapat lain :
Ada tiga pendekatan dalam menghitung pendapatan nasional, yaitu sebagai berikut ;
  1. Pendekatan pendapatan. Dalam pendekatan ini,pendapatan nasional diperoleh dari penjumlahan kompensasi untuk pekerja,keuntungan perusahaan,pendapatan usaha perorangan,pendapatan sewa,dan bunga netto
  2. Pendekatan produksi.Dalam pendekatan ini,pendapatan nasional diperoleh dari penjumlahan nilai tambah seluruh barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai sektor di dalam perekonomian
  3. Pendekatan pengeluaran.Dalam pendekatan pengeluaran,pendapatan nasional diperoleh dari penjumlahan nilai pasar dari seluruh permintaan akhir (final demand) atas output yang dihasilakan di dalam perekonomian yang pada harga yang berlaku.Komponen pendapatan nasional dengan pendekatan metode pengeluaran adalah sebagai berikut,pengeluaran konsumen rumah tangga (C),pengeluaran investasi (I),tabungan (S),pengeluaran pemerintah untuk barang dan jasa (G), serta ekspor netto (X - M)


Sumber:

c. Memahami Masalah dan Keterbatasan Perhitungan PDBa
Semua negara di dunia menghitung PDB untuk kinerja perekonomiannya. Walaupun begitu , data PDB perlu dilihat secara hati-hati karena ada beberapa hal yang tidak dapat diakomodasikan sehingga tidak dapat menjadi satu-satunya indikator dalam menentukan tingkat kesejahteraan suatu negara .
Masalah PDB
Permasalahan PDB terletak pada pembandingan tingkat kemakmuran atau kesejahteraan suatu negara dari tahun ke tahun , akan terjadi bias jika kita salah menggunakan perhitungan PDB .
Keterbatasan Perhitungan PDB
PDB tidak memasukan memasukan transaksi yang terjadi pada “underground economy” (perekonomian bawah tanah). Perekonomian seperti sektor informal atau sektor illegal seperti penjualan narkoba , dan sektor lain yang sulit tercatat oleh negara tidak masuk dalam perhitungan PDB . Ini menyebabkan nilai PDB cenderung dapat undervalued (lebih rendah) dari yang seharusnya .
PDB tidak selalu mencerminkan ukuran kesejahteraan sosial suatu negara
PDB hanya mngukur berapa banyak output yang diproduksi di suatu negara dan bagaimana sturktur serta perkembangannya antarwaktu . Untuk mengukur kemakmuran suatu negara , PDB merupakan indikator yang cukup baik . Akan tetapi , kesejahteraan suatu negara lebih kompleks dari hanya sekedar pendapatan yang tinggi . Beberapa indikator untuk menunjukan tingkat kesejahteraan adalah tingkat pengangguran , tingkat kematian ibu dan bayi , angka harapan hidup , tingkat buta huruf , dan lain-lain perlu diperhatikan juga .
PDB tidak mencerminkan pemerataan pendapatan. Nilai PDB suatu negara tidak dapat menunjukan apakah pendapatan nasional tersebut terbagi secara merata diantara penduduknya atau tidak . Bebarapa negara mengalami ketimpangan ekonomi yang besar dengan sebagian kecil penduduk menikmati sebagian besar PDB . Beberapa indikator lain perlu digunakan untuk melengkapi data PDB yang menunjukan ketimpangan yang terjadi, salah satunya adalah Koefisien Gini.

Adapula pendapat lain :

a. Perhitungan PDB dan Analisis Kemakmuran
Perhitungan PDB akan memberikan gambaran ringkas tentang tingkat kemakmuran suatu negara,dengan cara membaginya dengan jumlah penduduk.Angka tersebut dikenal sebagai angka PDB per kapita.Biasanya semakin tinggi PDB kemakmuran rakyat dianggap makin tinggi.

Kelemahan dari pendekatan diatas adalah tidak terlalu memperhatikan aspek distribusi pendapatan. Faktor utama pemicu gejalas diatas adalah masalah distribusi pendapatan.

b. Perhitungan PDB dan Masalah Kesejahteraan Sosial
Perhitungan PDB maupun PDB per kapita juga dapat digunakan untuk menganalisis tingkat kesejahteraan sosial suatu masyarakat.Umumnya ukuran tingkat kesejahteraan yang dipakai adalah tingkat pendidikan,kesehatan dan gizi,kebebasan memilih pekerjaan dan jaminan masa depan yang lebih baik. Masalah mendasar dalam perhitungan PDB adalah tidak diperhatikannya dimensi nonmaterial.Sebab PDB hanya menghitung output yang dianggap memenuhi kebutuhan fisik/materi yang dapat diukur dengan nilai uang.

c. PDB Per Kapita dan Masalah Produktivitas
Sampai batas-batas tertentu,angka PDB per kapita dapat mencarminkan tingkat produktivitas suatu negara. Untuk memperoleh perbandingan produktivitas antarnegara,ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan :
1. Jumlah dan komposisi penduduk : Bila jumlah penduduk makin besar,sedangkan komposisinya sebagian besar adalah penduduk usia kerja (15-64thn) dan berpendidikan tinggi (>SLA),maka tingkat output dan produktivitasnya dapat makin baik.
2. Jumlah dan struktur kesempatan kerja : Jumlah kesempatan kerja yang makin besar memperbnyak penduduk usia kerja yang dapat terlibat dalam proses produksi.Tetapi komposisi kerja pun mempengaruhi tingkat produktifitas.
3. Faktor-faktor nonekonomi : yang tercakup dalam faktor-faktor nonekonomi antara lain etika kerja,tata nilai,faktor kebudayaan dan sejarah perkembangan.

d. Penghitungan PDB dan Kegiatan-kegiatan Ekonomi Tak Tercatat (Underground Economy)
Angka statistika PDB indonesia yang dilaporkan BPS hanya mencatat kegiatan-kegiatanekonomi formal.DInegara-negara berkembang,keterbatasan kemampuan pencatatan lebih disebabkan oleh kelemahan administratif dan struktur kegiatan ekonomi masih didominasi oleh kegiatan pertanian dan informal.


Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Pendapatan_nasional
http://www.endz4shared.co.cc/2010/05/pengertian-pendapatan-nasional.html


TUGAS 2

FINI ERNA DEWI

12110786
2KA26
MATA KULIAH : TEORI ORGANISASI UMUM 2




Para ahli ekonomi mendefinisikan produksi sebagai “menghasilkan kekayaan melalui eksploitasi manusia terhadap sumber-sumber kekayaan lingkungan” Atau bila kita artikan secara konvensional,produksi adalah proses menghasilkan atau menambah nilai guna suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber daya yang ada. Produksi tidak berarti menciptakan secara fisik sesuatu yang tidak ada, karena tidak seorang pun yang dapat menciptakan benda. Oleh karenanya dalam pengertian ahli ekonomi, yang dapat dikerjakan manusia hanyalah membuat barang-barang menjadi berguna,disebut “dihasilkan”. Produksi bisa ditilik dari dua aspek; kajian positif terhadap hukum-hukum benda dan hukum-hukum ekonomi yang menentukan fungsi produksi, dan kajian normatif yang membahas dorongan-dorongan dan tujuan produksi.  Pembahasan mengenai nilai, norma, dan etika dalam produksi termasuk kedalam aspek normative yang banyak dikaji oleh para ahli teori social.
Mannan menyatakan bahwa system produksi dalam Islam harus dikendaikan oleh kriteria objektif maupun subjektif; kriteria yang objektif akan tercermin dalam bentuk kesejahteraan yang dapat diukur dari segi uang, dan kriteria subjektif dalam bentuk kesejahteraan yang dapat diukur dari segi etika ekonomi yang didasarkan atas perintah-perintah kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah. Jadi dalam Islam, keberhasilan sebuah system ekonomi tidak hanya disandarkan pada segala sesuatu yang bersifat materi saja, tapi bagaimana agar setiap aktifitas ekonomi termasuk produksi, bisa menerapkan nilai-nilai, norma, etika, atau dengan kata lain adalah akhlak yang baik dalam berproduksi. Sehingga tujuan kemaslahatan umum bisa tercapai dengan aktifitas produksi yang sempurna.
Dr. Muhammad Rawwas Qalahji memberikan padangan kata “produksi” dalam bahasa Arab dengan kata al-intaj yang secara harfiyah dimaknai dengan ijadu sil’atin (mewujudkan atau mengadakan sesuatu) atau khidmatu mu’ayyanatin bi istikhdami muzayyajin min ‘anashir al-intaj dhamina itharu zamanin muhaddadin (pelayanan jasa yang jelas dengan menuntut adanya bantuan pengabungan unsur-unsur produksi yang terbingkai dalam waktu yang terbatas).  Pandangan Rawwas di atas mewakili beberapa definisi yang ditawarkan oleh pemikir ekonomi lainnya. Hal senada juga diutarakan oleh Dr. Abdurrahman Yusro Ahmad dalam bukunya Muqaddimah fi ‘Ilm al-Iqtishad al-Islamiy. Abdurrahman lebih jauh menjelaskan bahwa dalam melakukan proses produksi yang dijadikan ukuran utamanya adalah nilai manfaat (utility) yang diambil dari hasil produksi tersebut.  Produksi dalam pandangannya harus mengacu pada nilai utility dan masih dalam bingkai nilai ‘halal’ serta tidak membahayakan bagi diri seseorang ataupun sekelompok masyarakat. Dalam hal ini, Abdurrahman merefleksi pemikirannya dengan mengacu pada QS. Al-Baqarah [2]: 219 yang menjelaskan tentang pertanyaan dari manfaat memakai (memproduksi) khamr. Lain halnya dengan Taqiyuddin an-Nabhani, dalam mengantarkan pemahaman tentang ‘produksi’, ia lebih suka memakai kata  istishna’ untuk mengartikan ‘produksi’ dalam bahasa Arab. An-Nabhani dalam bukunya an-Nidzam al-Iqtishadi fi al-Islam me-mahami produksi itu sebagai sesuatu yang mubah dan jelas berdasarkan as-Sunnah.  Sebab, Rasulullah Saw pernah membuat cincin. Diriwayatkan dari Anas yang mengatakan “Nabi Saw telah membuat cincin.” (HR. Imam Bukhari). Dari Ibnu Mas’ud: “Bahwa Nabi Saw. telah membuat cincin yang terbuat dari emas.” (HR. Imam Bukhari). Beliau juga pernah membuat mimbar. Dari Sahal berkata: “Rasulullah Saw telah mengutus kepada seorang wanita, (kata beliau): Perintahkan anakmu si tukang kayu itu untuk membuatkan sandaran tempat dudukku, sehingga aku bisa duduk di atsnya.” (HR. Imam Bukhari). Pada masa Rasulullah, orang-orang biasa memproduksi barang, dan beliau pun mendiamkan aktifitas mereka. Sehingga diamnya beliau menunjukkan adanya pengakuan (taqrir) beliau terhadap aktifitas berproduksi mereka. Status (taqrir) dan perbuatan Rasul itu sama dengan sabda beliau, artinya sama merupakan dalil syara’.
Adapun aspek produksi yang berorientasi pada jangka panjang adalah sebuah paradigma berfikir yang didasarkan pada ajaran Islam yang melihat bahwa proses produksi dapat menjangkau makna yang lebih luas, tidak hanya pencapaian aspek yang bersifat materi-keduniaan tetapi sampai menembus batas cakrawala yang bersifat ruhani-keakheratan.
Pentingnya melakukan produksi adalah sebagai berikut :
Produksi mempunyi peranan penting dalam peekonomian karena produksi menentukan kemakmuran suatu bangsa dan taraf hidup manusia. Al Qur’an telah meletakkan landasan yang jelas tentang produksi. Salah satu diantaranya adalah diperinytahkannya bekerja keras dalam mencari kehidupanagar tidak mengalami kegagalan atau tertinggal dalam berjuag demi kelangsungan hidupnya.
Allah telah menganugerahkan alam semesta untuk kesejahteraan manusia. Sebagai khalifah di Bumi Manusia diberikan kebebasan dalam mengelola kekayaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Untuk memperbaiki keadaan ekonomi individu dan masyarakat manusia, dalam mengelola kekayaan telah diberikan batasan yang jelas dalam nilai-nilai ajaran Islam.
Aktivitas kerja manusia dalam melakukan produksi yang merupakan sebagai dasar berjalannya roda perekonomian. Dengan melakukan produksi sendi perekonomian akan tetapa berjalan yaitu tetap adanya mata pencaharian yang beruntut pada sektor distribusi dan konsumsi dalam Ekonomi. Sehingga kebutuhan dari manusia akan tetap berjhalan yaitu terpenuhinya kebutuhan primer yaitu melakukan konsumsi barang.
Sedangkan dalam kamus B.indonesia
1.    1 proses mengeluarkan hasil; penghasilan: ongkos -- barang; 2 hasil: buku itu merupakan -- nya yg pertama; 3 pembuatan: -- film itu menelan biaya cukup besar; 
-- arus produksi massa yg prosesnya melalui sederetan mesin yg masing-masing hanya menyelesaikan sebagian kecil dr proses; -- berat hidup Tern produksi ternak dr suatu usaha peternakan yg dinyatakan dl berat hidupnya (penimbangan ternak pd waktu masih hidup); -- bersih Ikn produksi total dikurangi jumlah ikan yg ditanam (dl ukuran berat); -- kotor jumlah keseluruhan bahan organik yg terbentuk dl satu waktu tertentu, termasuk yg langsung digunakan untuk proses metabolisme; -- massa pembuatan barang dl jumlah besar-besaran, biasanya dng mesin, baik yg berupa ulangan produk lama maupun produk yg coraknya telah diberi variasi, msl dl hal warna dan perlengkapannya; -- pertanian barang, baik berupa tanaman maupun hewan atau yg lain, yg dihasilkan oleh suatu usaha tani atau perusahaan pertanian; -- susu jumlah air susu yg dihasilkan oleh (perusahaan) ternak perah; -- telur jumlah telur yg dihasilkan oleh perusahaan peternakan dl waktu tertentu; -- telur per ekor jumlah telur yg dihasilkan oleh seekor ayam petelur sejak bertelur sampai dikeluarkan krn sudah kurang produktif; -- ternak jumlah ternak yg dihasilkan oleh perusahaan peternakan, biasanya hasil dl satu tahun; 
ber·pro·duk·si v mengeluarkan hasil; menghasilkan: industri aluminium di Jayapura telah mulai ~; 
mem·pro·duk·si v menghasilkan; mengeluarkan hasil: pabrik itu sedang mencoba semaksimal mungkin ~ tekstil yg bermutu sama dng mutu buatan luar negeri; 
pem·ro·duk·si n 1 yg memproduksi; 2 alat untuk memproduksi; 
pem·ro·duk·si·an n proses, cara, perbuatan memproduksi
Menurut pendapat yang lain
Produksi merupakan suatu kegiatan yang dikerjakan untuk menambah nilai guna suatu benda atau menciptakan benda baru sehingga lebih bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan. Kegiatan menambah daya guna suatu benda tanpa mengubah bentuknya dinamakan produksi jasa. Sedangkan kegiatan menambah daya guna suatu benda dengan mengubah sifat dan bentuknya dinamakan produksi barang. Produksi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk mencapai kemakmuran. Kemakmuran dapat tercapai jika tersedia barang dan jasa dalam jumlah yang mencukupi. Orang atau perusahaan yang menjalankan suatu proses produksi disebut Produsen

Sumber :

Fungsi Produksi

Bagian produksi adalah suatu bagian yang ada pada perusahaan yang bertugas untuk mengatur kegiatan-kegiatan yang diperlukan bagi terselenggaranya proses produksi. Dengan mengatur kegiatan itu maka diharapkan proses produksi akan berjalan dengan lancar dan hasil produksinya pun akan bermutu tinggi sehingga dapat diterima oleh pemakainya.
Bagian produksi dalam menjalankan tugasnya tidaklah sendirian, akan tetapi bersama-sama dengan bagian – bagian lain seperti bagian pemasaran, bagian keuangan serta bagian akuntansi. Oleh karena itu perlu diadakan koordinasi kerja, agar semua bagian dapat berjalan dengan beiringan, sehingga akan mencegah terjadinya benturan – benturan antar bagian.
Tanpa adanya perencanaan yang matang, pengaturan yang bagus serta pengawasan yang baik saja pun akan mengakibatkan jeleknya hasil produksi. Di samping hasil produksi yang harus bagus kwalitasnya, ternyata harus di pikirkan juga agar jangan sampai terjadi hasil produksinya bagus tapi ongkos yang diperlukan untuk memproduksinya terlalu besar.
Biaya produksi yang terlalu tinggi akan berakibat harga pokok produksinya menjadi besar dan hal ini akan mengakibatkan tingginya harga jual produk, sehingga akan tidak terjangkau oleh konsumen. Inilah yang merupakan tugas dari bagian produksi. Tugas-tugas tersebut akan dapat terlaksana dengan baik dengan mengacu pada pedoman kerja tertentu.
Pedoman kerja yang harus menjadi arah kerja bagi bagian produksi dapat dirumuskan dalam empat hal yaitu :
1. Tepat Jumlah
2. Tepat Mutu
3. Tepat Waktu
4. Tepat Ongkos/Harga
Jumlah produk yang dihasilkan sebaiknya direncanakan dengan baik agar tidak terlalu banyak ataupun terlalu sedikit. Bila produksi terlalu banyak tentu saja akan mengakibatkan bertumpuknya hasil produksi di gudang. Hal ini akan mengakibatkan disamping barang tersebut akan mengalami kerusakan dalam penyimpanannya, maka penumpukan tersebut berarti banyak modal yang tertanam dalam barang jadi itu berhenti dan menjadi kurang efektif.
Dengan pedoman pada empat hal tersebut maka bagian produksi akan dapat mencapai sasarannya dengan baik. Keempat hal tersebut dapat dikenal dengan mudah sebagai “empat tepat”.
Adapun tugas tersebut secara garis besarnya dapat kita bagi menjadi beberapa macam yaitu :
1. Perencanaan Produk
2. Perencanaan Luas Produksi
3. Perencanaan Lokasi Pabrik
4. Perencanaan Layout Mesin-mesin Pabrik
5. Perencanaan Bahan Baku
6. Pengaturan Tenaga Kerja
7. Pengawasan Kwalitas
Fungsi menurut pendapat lain
FUNGSI PRODUKSI
Fungsi produksi adalah suatu bagian fungsi yang ada pada perusahaan yang bertugas untuk mengatur kegiatan-kegiatan yang diperlukan bagi terselenggaranya proses produksi. Dengan mengatur kegiatan itu maka diharapkan proses produksi akan berjalanlancar dan hasil produksi pun akan bermutu tinggi sehingga dapat diterima oleh masyarakat pemakainya. Bagian produksi dalam menjalankan tugasnya tidaklah sendirian akan tetapi bersama-sama dengan bagian-bagian lain seperti bagian pemasaran, bagian keuangan serta bagian akuntansi. Oleh karena itu haruslah diadakan koordinasi kerja agar semua bagian dapat berjalan seiring dan seirama dan dapat dihindarkan benturan – benturan kepentingan antar bagian dalam perusahaan.
Tugas utama dari bagian produksi dalam kaitannya dengan pencapaian tujuan perusahaan secara umum adalah berusaha mencapai biaya produksi yang rendah, mutu produk yang tinggi, tanggapan yang cepat atas permintaan, dan fleksibilitas untuk membuat beragam barang yang sesuai dengan selera dan spesifikasi pelanggan (Amirullah, 2002) .
Fungsi-fungsi operasi yang akan dibahas di sini meliputi;
1) perencanaan dan desain produk 
2) perencanaan kapasitas produk 
3) perencanaan layout pabrik 
4) Perencanaan Layout Mesin-mesin Pabrik 
5) Perencanaan Bahan Baku


1.PERENCANAAN DAN DESAIN PRODUK
Empat faktor utama yang perlu di perhatikan dalam mendesain dan merencanakan produk adalah sebagai berikut:
a.Globalisasi selera konsumen
b.Segmentasi pasar
c.Kondisi lokal
d.Teknologi

2.PERENCANAAN KAPASITAS PRODUKSI
Suad Husnan dan Suwarsono (1994) mengistilahkan kapasitas produksi sebagai luas produksi , yaitu jumlah produk yang seharusnya diproduksi untuk mencapai keuntungan yang optimal.
Zulian Y (1996) mengungkapkan bahwa untuk menentukan kapasitas produksi optimum, terdapat berbagai faktor yang harus diperhatikan , yakni sebagai berikut:
a.Kapasitas bahan baku
b.Kapasitas jam kerja mesin
c.Kapasitas jam kerja
d.Modal kerja
e.Jumlah atau kapasitas permintaan

Faktor-faktor tersebut dikombinasikan untuk mencapai hasil yang optimum(keuntungan maksimum dan biaya minimum).Untuk mengkombinasikan berbagai faktor tersebut digunakan metode-metode sebagai berikut:
a.Metode Break even Point
BEP dapat diartikan suatu keadaan di mana total pendapatan besarnya sama dengan total biaya(TR=TC)dapat pula diartikan laba sama dengan nol.
b.Metode Liniear Programming
Metode liniear programming (LP) merupakan teknik matematik dalam membantu manajemen untuk mengambil keputusan.

3. DESAIN LAYOUT PABRIK
Layout berhubungan dengan masalah penyusunan mesin dan peralatan produksi dalam pabrik .
Menurut reksohadiprojo (2000: 127), layout fasilitas merupakan keseluruhan bentuk dan penempatan fasilitas-fasilitas yang diperlukan di dalam proses produksi .

5. Perencanaan Bahan Baku
Bahan baku harus direncanakan sedemikian rupa sehingga menopang tercapainya tujuan bagian produksi yaitu tepat jumlah., tepat mutu, tepat waktu dan tepat ongkos atau harganya. Pengaturan bahan baku memiliki 2 aspek utama yaitu :
1. Penyediaan
2. Penggunaan
Persediaan Bahan
Konsekuensi biaya yang terjadi dalam pengadaan bahan itu ada dua macam yaitu :
a. Biaya Pembelian atau Pemesanan (Ordering Cost)
Biaya pembelian adalah biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan dalam melakukan kegiatan pembeliannya atau pemesanan bahan bakunya. Jadi biaya pembelian adalah biaya untuk melakukan kegiatan pembelian. Hal ini perlu diingatkan bahwa sering kali terjadi kekeliruan pengertian bahwa biaya pembelian itu diperhitungkan sebagai biaya atau harga bahan yang kita beli pada saat kita membeli bahan itu. Hal ini tidak benar. Harga bahan yang kita beli bukan merupakan biaya pembelian akan tetapi masuk sebagai biaya bahan, sedangkan biaya pembelian adalah biaya yang harus ditanggung dari kegitan pembeliannya seperti transportasi, komunikasi, penginapan, dan pelaksanaan pembelian tersebut.
b. Biaya Penyimpanan (Carrying Cost)
Biaya penyimpanan adalah biaya yang harus ditanggung karena kita harus menyimpan bahan yang sudah dibeli dan belum dipergunakan dalam proses produksi, Kedua biaya tersebut akan ditanggung bersama-sama oleh pengusaha. Oleh karena itu maka secara bersama akan membentuk total biaya persediaan yang merupakan jumlah dari kedua biaya tersebut.
Titik atau jumlah pembelian yang paling ekonomis yang dalam bahasa asing adalah “Economical Order Quantity” dan disingkat EOQ. Jumlah tersebut di pandang paling ekonomis karena total biaya yang ditanggungnya adalah yang tersendah, Titik terendah dari total biaya persediaan yang menimbulkan titik EOQ tersebut akan tercapai bila biaya penyimpanan sama besarnya atau berpotongan dengan biaya pemasaran.
Sumber :


b. Jenis-Jenis Pasar
Jenis – Jenis Pasar dibedakan menurut bentuk kegiatan, cara transaksi dan menurut jenis barangnya.
Pengertian Pasar atau Definisi Pasar adalah tempat bertemunya calon penjual dan calon pembeli barang dan jasa.
Di pasar antara penjual dan pembeli akan melakukan transaksi. Transaksi adalah kesepakatan dalam kegiatan jual-beli.  Syarat terjadinya transaksi adalah ada barang yang diperjual belikan, ada pedagang, ada pembeli, ada kesepakatan harga barang, dan tidak ada paksaan dari pihak manapun.
Jenis-Jenis Pasar
Jenis pasar menurut bentuk kegiatannya. Menurut dari bentuk kegiatannya pasar dibagi menjadi 2 yaitu pasar nyata ataupun pasar tidak nyata(abstrak).  Maka kita lihat penjabaran berikut ini:
§  Pasar Nyata.
Pasar nyata adalah pasar diman barang-barang yang akan diperjual belikan dan dapat dibeli oleh pembeli. Contoh pasar tradisional dan pasar swalayan.
§  Pasar Abstrak.
Pasar abstrak adalah pasar dimana para pedagangnya tidak menawar barang-barang yang akan dijual dan tidak membeli secara langsung tetapi hanya dengan menggunakan surat dagangannya saja. Contoh pasar online, pasar saham, pasar modal dan pasar valuta asing.
Jenis pasar menurut cara transaksinya. Menurut cara transaksinya, jenis pasar dibedakan menjadi pasar tradisional dan pasar modern.
§  Pasar Tradisional
Pasar tradisional adalah pasar yang bersifat tradisional dimana para penjual dan pembeli dapat mengadakan tawar menawar secar langsung. Barang-barang yang diperjual belikan adalah barang yang berupa barang kebutuhan pokok.
§  Pasar Modern
Pasar modern adalah pasar yang bersifat modern dimana barang-barang diperjual belikan dengan harga pas dan denganm layanan sendiri. Tempat berlangsungnya pasar ini adalah di mal, plaza, dan tempat-tempat modern lainnya.
Jenis – Jenis Pasar menurut jenis barangnya. Beberapa pasar hanya menjual satu jenis barang tertentu , misalnya pasar hewan,pasar sayur,pasar buah,pasar ikan dan daging serta pasar loak.
Jenis – Jenis Pasar menurut keleluasaan distribusi. Menurut keluasaan distribusinya barang yang dijual pasar dapat dibedakan menjadi:
§  Pasar Lokal
§  Pasar Daerah
§  Pasar Nasional dan
§  Pasar Internasional
Pengertian dan Macam-macam Pasar Menurut Bentuk dan Strukturnya
Pasar menurut struktur dibedakan menjadi empat macam yaitu pasar persaingan sempurna, monopoli, persaingan monopolistik, dan oligopoli.
a. Pasar Persaingan Sempurna
Pasar persaingan sempurna disebut juga pasar persaingan murni adalah pasar di mana terdapat banyak penjual dan pembeli dan mereka sudah sama-sama mengetahui keadaan pasar.
Pasar persaingan sempurna memiliki ciri-ciri berikut ini.
1) Banyak penjual dan pembeli.
2) Barang yang diperjualbelikan sejenis (homogen).
3) Penjual maupun pembeli memiliki informasi yang lengkap tentang pasar.
4) Harga ditentukan oleh pasar.
5) Semua faktor produksi bebas masuk dan keluar pasar.
6) Tidak ada campur tangan pemerintah. Contoh pasar persaingan sempurna antara lain pasar hasil-hasil pertanian.
b. Pasar Persaingan Tidak Sempurna
Pasar persaingan tidak sempurna adalah kebalikan dari pasar persaingan sempurna yaitu pasar yang terdiri atas sedikit penjual dan banyak pembeli. Pada pasar ini penjual dapat menentukan harga barang. Barang yang diperjualbelikan jenisnya heterogen (berbagai jenis barang). Pasar persaingan tidak sempurna mempunyai beberapa bentuk pasar.
1) Pasar Monopoli
Pasar monopoli adalah pasar yang terjadi apabila seluruh penawaran terhadap sejenis barang pada pasar dikuasai oleh seorang penjual atau sejumlah penjual tertentu. Pada pasar monopoli terdapat ciri-ciri berikut ini.
a) Hanya ada satu penjual sebagai pengambil keputusan harga (melakukan monopoli pasar).
b) Penjual lain tidak ada yang mampu menyaingi dagangannya.
c) Pedagang lain tidak dapat masuk karena ada hambatan dengan undang-undang atau karena teknik yang canggih.
d) Jenis barang yang diperjualbelikan hanya semacam.
e) Tidak adanya campur tangan pemerintah dalam penentuan harga, contoh: PT Pertamina (persero), PT Perusahaan Listrik Negara (persero), dan PT Kereta Api (persero).
2) Pasar Persaingan Monopolistis
Pasar persaingan monopolistis adalah pasar dengan banyak penjual yang menghasilkan barang yang berbeda corak. Pasar ini banyak dijumpai pada sektor jasa dan perdagangan eceran. Misalnya jasa salon, angkutan, toko obat/apotik, dan toko kelontong.
Pada pasar persaingan monopolistik terdapat ciri-ciri berikut ini.
a) Terdiri atas banyak penjual dan banyak pembeli.
b) Barang yang dihasilkan sejenis, hanya coraknya berbeda. Contoh: sabun, pasta gigi, dan minyak goreng.
c) Terdapat banyak penjual yang besarnya sama, sehingga tidak ada satu penjual yang akan menguasai pasar.
d) Penjual mudah menawarkan barangnya di pasar.
e) Penjual mempunyai sedikit kekuasaan dalam menentukan dan memengaruhi harga pasar.
f) Adanya peluang untuk bersaing dalam keanekaragaman jenis barang yang dijual.
3) Pasar Oligopoli
Pasar oligopoli adalah pasar yang hanya terdiri atas beberapa penjual untuk suatu barang tertentu, sehingga antara penjual yang satu dengan yang lainnya bisa memengaruhi harga. Contoh:
perusahaan menjual mobil dan sepeda motor, perusahaan rokok, industri telekomunikasi, dan perusahaan semen. Pasar oligopoli mempunyai ciri-ciri berikut ini.
a) Hanya terdapat sedikit penjual, sehingga keputusan dari salah satu penjual akan memengaruhi penjual lainnya.
b) Produk-produknya berstandar.
c) Kemungkinan ada penjual lain untuk masuk pasar masih terbuka.
d) Peran iklan sangat besar dalam penjualan produk perusahaan.